|
Al-Quran menerangkan dua aspek doa: Satu sisi Allah ingin supaya
kehendak-Nya yang diikuti, dan aspek kedua Allah memenuhi keinginan
hamba-hamba-Nya. Di dalam ayat- walanabluwannakum bisyai'in minal khoufi...- Allah
menyatakan hak-Nya. Yakni Allah berfirman: Kami pasti akan mencoba kamu
dengan ketakutan dan kelaparan. Kalimat ini menyatakan hak Allah bahwa
Allah ingin menyuruh manusia menerima keinginan-Nya. Dan penekanan
ungkapan yang Dia zahirkan dengan nun ta’kid, dari itu kehendak
Allah adalah bahwa kami akan menzahirkan (qadha mubram) - ketentuan
yang tidak bisa terelakkan. Maka obatnya ialah - innalillahi wainna ilaihi rooji'un-
Sesungguhnya kita ini milik Tuhan dan kepada-Nya-lah kita kembali
(Al-Baqarah: 57). Jadi manakala Allah ingin menyuruh supaya mengikuti
kehendaknya. Maka inilah obatnya kemudian ridha pada kehendak-Nya.
Dan kemudian hal yang kedua adalah gejolak gelombang anugerah dan karunia Ilahi yang dizahirkan dalam ayat mintalah Saya akan menjawab doa-doamu (Al-Mu’min: 51).
Jadi dari dua ayat Alquran tadi ada dua hal yang dapat kita simpulkan mengenai asas doa ini. Satu adalah Allah ingin supaya kehendak-Nya yang dituruti. dan yang kedua adalah terkadang Allah menciptakan gejolak di dalam diri hamba-hamba-Nya dan Dia berfirman, mintalah Saya akan menjawab doa-doa kalian.
Jadi orang-orang mu’min hendaknya mengetahui sepenuhnya akan kedua tempat itu. Para sufi mengatakan bahwa seorang kelana pencari Tuhan/sufi tidak sempurna selama tidak meraih bagaimana pengenalan peluang, bahkan dikatakan bahwa sufi tidak berdoa selama tidak mengenal/memahami waktu”. Pendeknya hendaknya kita harus mengenal akan pembagian doa itu bahwa terkadang Allah ingin supaya hamba-Nya menuruti keinginan-Nya dan kadang Dia mengabulkan doa-Nya. Perkara ini seolah-olah merupakan perkara persahabatan. Seberapa tingkat pengabulan doa nabi kita yang sedemikian agungnya, berhadapan dengan itu juga keridhaan dan penyerahan diri beliau berada pada kedudukan derajat yang tinggi, dimana Allah mengabulkan doa-doa beliau dan merupakan pemandangan pengabulan doa yang luar biasa. Terkadang terjadi juga dimana beliau mengaalmi penderitaan dan kesusahan.Tetapi beliau menahan itu dengan sabar dan dengan senang hati beliau menerimanya.
Mereka yang datang kepada orang-orang sufi dan para arifbillah kebanyakan dari mereka datang dengan niat untuk menguji. Mereka tidak mengenal akan hakekat doa”. Mereka pada dasarnya ingin menguji mereka.Mereka tidak mengenal akan hakekat doa”. Sebagaimana seorang menulis bahwa kini kenapa kalian tidak melakukan. “ Karena itu tidak sepenuhnya bermanfaat. Orang-orang yang bijak mengambil manfaat dari itu…..Orang-orang yang luput dari mamfaat doa-doa, mereka merupakan orang-orang yang tertipu sehingga mereka tidak mengenal akan pembagian doa. (Malfuzhat jilid 2:167-168) Yakni mereka tidak mengenal akan hal itu bahwa Allah menerima keinginan hamba-Nya dan kadang tidak menerima. Apabila tidak menerima maka untuk hamba-Nya Dia akan menciptakan sarana yang lain. Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hadhrat Ibni Umar meriwayatkan bahwa diantara kalian barangsiapa yang baginya pintu doa dibukakan maka seolah-olah pintu rahmat dibukakan baginya. Dan barang-barang apa yang diminta kepada Allah dari itu yang paling disukai adalah afiat /kesehatan diminta pada-Nya. Rasulullah saw bersabda,” Doa memberikan manfaat dibandingkan dengan ujian yang telah datang dan dengan yang kini belum datang. Hai hamba Allah !wajib bagimu untuk memanjatkan doa”. (Sunan Tirmidzi kitabuddakwat)
Kemudian Rasulullah saw bersabda dalam riwayat lain bahwa tidak ada sesuatu yang dapat memanjangkan umur selain kebaikan, dan selain doa tidak ada yang dapat menunda takdir Ilahi dan sesungguhnya manusia dimahrumkan dari rezeki akibat kesalahan-kesalahan yang dia telah perbuat. Sunan Ibni Majah muqaddimah bab fil qadr
Tertera dalam sebuah riwayat bahwa beliau bersabda : Tidak ada sesuatu yang lebih layak dihormati pada pandangan Allah lebih dari doa.(Turmudzi Abwabuddakwat bab majaafi fadhliddu’a)
Jadi, apabila dengan murni kita tunduk dihadapan Tuhan sebagaimana Allah berfirman,” Saya pasti akan mendengar seruan, tetapi dengan syarat bahwa hamba Saya mengamalkan firman-firman Saya”. Jadi, kalau kita senantiasa melakukan introspeksi maka akan dapat diketahui bahwa berapa hukum -hukum Allah yang kita amalkan. Maka dengan sedirinya sejalan dengan introspeksi itu keluhan akan tidak terkabulnya doa itu akan menjadi jauh dengan sendirinya. Jadi pada pandangan Allah orang berdoa layak mendapat penghormatan karena mereka dengan tulus tunduk dihadapan-Nya dan hadir dihadapan-Nya,dia mengadu pada-Nya, di dalam diri mereka tidak ada sikap pamer. Dialah pemilik kemuliaan yang melakukan sesuatu demi untuk keredhaan-Nya dan ini dapat berjalan dengan diam-diam dan dengan terang-terangan juga. Semoga kita selalu menjadi pendoa yang arif.
Dikutip Dari khutbah Jumah Mirza Masroor Ahmad tanggal 26-11-2004
|
Good read, thx for posting -----...
buat al iman maksih atas comment dan ...
hei..kau yang bilang agama islam suka...
Terima kasih sekali atas apa yang tel...
makasih sobat muslim